TENTANG KAMI

Sekolah Juara

TENTANG KAMI

Sekolah Juara

FILOSOFI JUARA

FILOSOFI JUARA

Tidakah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya, dibuatkan oleh Allah perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim: 24-25)

Dalam hal pendidikan, pohon ibarat tahapan perkembangan anak. Akar sebagai input, batang sebagai proses, dan buah sebagai output.  Akar ibarat input anak, setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal potensi fitrah keimanan. Manusia yang lahir dalam kondisi fitrah dibekali dengan ruh, jasad, dan akal. Dalam hal ini kita perlu yakin bahwa setiap anak memiliki potensi baik yang perlu dikembangkan. Batang adalah proses memantaskan diri seorang anak. Dalam hal ini potensi anak yaitu pemahaman ditumbuh kembangkan sedemikian rupa. Bukti ada proses pemahaman adalah adanya amal dalam manusia. Buah dari ilmu dan keikhlasan adalah amal (aktivitas). Maka dari itu pendidikan menuntut pendidiknya dapat beramal dimulai untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara sampai dunia. Setelah proses yang diibaratkan batang, maka berharap tumbuhnya buah. Potensi manusia dihidupkan dengan ilmu lalu diproses menjadi amal. Kemudian dibuktikan dengan akhlak, itulah ‘buah’ dari pendidikan yang merupakan anugerah terbaik bagi seorang hamba dalam hal ini pendidik.

Goals Sekolah Juara

“mencetak generasi cerdas, mandiri, dan kompetitif.”

Bagi seorang muslim menjadi cerdas sangat penting agar mampu menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan. Mencetak siswa yang cerdas adalah salah satu tugas sekolah dalam mengembangkan potensi mereka agar senantiasa mempersiapkan bekal kehidupan. Selain cerdas, hal yang terpenting dalam mendidik anak adalah menjadikan mereka mandiri. Hal ini dimaksud untuk membiasakan anak membebaskan diri dari ketergantungan. Harapannya anak dapat mandiri dan berani menjelajahi dunia tanpa pertolongan orang tua dan guru lagi. Mereka telah tahu mana yang benar dan buruk juga telah memahami dimana ia harus memulai dan kemana ia mesti berlabuh. Terakhir adalah mencetak generasi yang kompetitif. Kompetitif dibutuhkan karena di masa depan mereka harus menghadapi kompetisi yang semakin keras. Seorang anak yang sadar akan kompetisi akan selalu berusaha menjadi lebih baik.