Ruang sempit itu tidak besar, hanya 25m2. Dindingnya tidak diplester, hanya berlantaikan semen. Ketika masuk melalui pintu depan kita bisa melihat semua isi ruangan. Semuanya berserakan, di situ tempat untuk belajar, juga kadang jadi tempat untuk tidur. Satu ruangan untuk semua kegiatan. Tidak ada kamar, hanya sekat dari kain. Tidak juga ada lemari kain, bahkan untuk masak pun harus keluar membuat tungku kayu bakar. Untuk toilet pun tidak ada, nayla beserta ayah ibunya harus berjalan 300 m untuk menemukan sumur umum.

Dengan pekerjaan ayah nayla sebagai pemulung sampah, yang juga terkadang sebagai buruh angkut batu bata. Membuat ayahnya tidak patah arang, agar nayla tetap bisa belajar online sama seperti teman-temannya yang lain. Terkadang berhari hari nayla tidak ada kabar dalam belajar online. Ketika dihubungi oleh gurunya, Nayla hanya menjawab “mungkin paket nayla habis bu”, “Maaf ya bu, nayla jadi tidak bisa ikut belajar”, “Nayla jadi takut ketinggalan pelajaran”.

Meskipun dengan hp seadannya, nayla sangat antusias dalam mengikuti pelajaran. Terkadang murid kelas 2 sekolah dasar ini harus berjalan kaki sejauh 4 km untuk menjemput buku cetak ke rumah gurunya. Menurut wali kelas 2 yaitu Bu Dian, salah satu kepandaian Nayla adalah saat pelajaran PJOK, ia sangat lihai dalam memainkan hulahop. Pak Aprinaldi sebagai ayahnya juga berharap agar Nayla bisa terus sekolah, tidak seperti ke lima abang dan kakanya yang semuanya putus sekolah karena keterbatasan dana.

Namun sekarang hpny pun sudah rusak dan usang. Sehingga Nayla tidak bisa mengikuti pelajaran jarak jauh. Dan jadi banyak ketinggalan pelajaran. Alhamdulillah karna kebaikan dari donatur, pihak sekolah dapat meminjamkan Nayla tablet untuk tetap bisa belajar online. Terima kasih donatur, Nayla bahagia bisa kembali belajar tutur Nayla dengan penuh suka cita.