Agfan Pratama sejak lahir dirawat oleh neneknya yang ia panggil dengan sebutan mama. Sejak kecil ia ditinggal oleh kedua orang tuanya. Ibunya meninggal ketika ia bayi dan ayahnya tak pernah kembali sejak pamit untuk pergi bekerja ke Pulau Kalimantan. Agfan hanya mengenal ayahnya dari foto yang disimpan oleh neneknya. Beberapa bulan setelah ayahnya pergi, beliau sempat menelpon memberi kabar bahwa dia mengalami kecelakaan. Setelah itu tidak pernah lagi ada kabar dari ayahnya. Keluarga tidak tahu kemana harus menghubungi karena beliau tidak memberitahu alamat tempatnya bekerja, hanya nomor telepon yang dimiliki dan tak pernah aktif lagi. Bertahun lamanya tak ada kabar hingga akhirnya keluarga mengikhlaskan apa yang terjadi.

Neneknya bekerja sebagai buruh setrika dibeberapa rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Seiring bertambahnya waktu, Agfan semakin besar. Semakin banyak pula biaya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Penghasilan yang diperoleh dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terkadang jika sudah tidak ada uang, beliau meminjam uang dari tetangga dan membayarnya ketika sudah gajian.

Agfan si murah senyum bercita-cita menjadi tantara. Dimasa-masa akhir berada di SD Juara nenek Agfan sedikit khawatir menghadapi system BDR. Dia khawatir Agfan tidak maksimal melaksanakan kegiatan belajar di rumah karena pagi hingga siang sibuk bekerja. Sedangkan Agfan masih perlu bimbingan untuk belajar. Setelah berkonsultasi dengan guru kelas, maka kegiatan belajar mengajar yang harusnya dilaksanakan Agfan pagi hingga siang hari diubah menjadi sore hingga malam hari, karena saat itu neneknya berada di rumah dan bisa membimbing Agfan. Semoga Agfan berhasil mencapai cita-citanya.